Rekomendasi 

6 Buku Feminisme yang Penting Dibaca untuk Memahami Patriarki

Patriarki itu memang jahat, sebab, budaya patriarki telah menempatkan perempuan pada posisi inferior dan tunduk pada laki-laki. Dampaknya, kehidupan perempuan dibatasi, kaum perempuan tidak bisa bebas mengejar cita-citanya, dan mereka mengalami ketertindasan di dalam dan luar rumah.

Untuk memahami tentang apa itu patriarki, sejak kapan budaya patriarki muncul, apa saja bentuknya, serta bagaimana untuk melawannya, 6 buku bertema feminisme ini penting untuk dibaca:



Mitos Inferioritas Perempuan

Penulis: Evelyn Reed

Seperti anak panah, buku yang ditulis Evelyn Reed ini meluncur dan menghunjam tepat di jantung patriarki dan kapitalisme. Melalui buku ini, dia membantah mitos yang selama ini diproduksi dan direproduksi oleh budaya patriarki dan kapitalisme yang menyebut bahwa kodrat perempuan dalam kehidupan sosial, menduduki posisi inferior (lebih rendah), sedangkan laki-laki menduduki posisi superior (lebih tinggi). Dengan pendekatan materialisme historis, dia menelusuri akar sosial dan ekonomi penindasan perempuan dari zaman pra-ejarah sampai ke zaman kapitalisme modern.

Melalui buku ini, dia tiba pada kesimpulan bahwa proses awal penundukan terhadap kaum perempuan dimulai pada saat masyarakat telah terbagi dalam kelas-kelas yang saling bertentangan. Sebelumnya, pada zaman komunal primitif, perempuan memiliki kemandirian di ranah ekonomi, memiliki kebebasan di ranah seksual, memiliki kehormatan di ranah politik, dan memiliki kontribusi dalam menciptakan dan mengembangkan kebudayaan, bahkan, menurut Reed, kaum perempuanlah yang pertama kali mengambangkan peradaban dan humanisme. Melalui studi antropologi ini, Reed menghancurkan mitos inferioritas kaum perempuan.



Ibuisme Negara: Konstruksi Sosial Keperempuanan Orde Baru 

Penulis: Julia Suryakusuma

Sepanjang sejarah, negara lazim memanipulasi secara bergantian paham perempuan sebagai isteri atau ibu, atau keduanya, sesuai dengan “kebutuhan” negara atau bangsa. Di negara Orde Baru Indonesia, nampaknya pemerintah menemukan bahwa cara yang paling baik untuk membendung dan memanipulasi kekuatan kaum perempuan, baik secara sosial, politik dan ekonomi, adalah dengan mendefinisikan mereka dalam kategori utama sebagai “isteri”.  Julia Suryakusuma berhasil menganalisis bahwa konstruksi sosial keperempuanan Indonesia  sebagai ideologi jender negara merupakan manipulasi unsur-unsur  “peng-ibu rumahtanggaan” dan “ibuisme” dalam konteks pembangunan ekonomi kapitalis yang dipimpin negara.



Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith: Kisah tentang Perempuan dan Ilmu Ekonomi

Penulis: Katrine Marçal

Pada 1776, Adam Smith menuliskan kutipan terkenal: “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan-diri mereka sendiri-sendiri.” Bagi Smith, kepentingan-dirilah yang menggerakkan tindakan manusia, dan keyakinan tentang homo economicus ini (manusia sebagai makhluk yang memaksimalkan pemenuhan kepentingan-dirinya) akan melandasi seluruh bangunan ilmu ekonomi liberal sesudahnya. Namun benarkah?

Bagi Katrine Marçal, sungguh ironis bahwa pernyataan tersebut keluar dari Adam Smith yang hampir sepanjang hayat hidup bersama ibunya, dirawat dan disiapkan makan oleh kebaikan hati ibunya. Buku Marçal ini adalah serangan feminis yang tajam, cerdas, dan kocak terhadap konsepsi manusia ekonomi dan ideologi ekonomi dominan yang telah membawa dunia dari satu krisis ke krisis berikutnya.



Apakah Takdir Perempuan sebagai Manusia Kelas Dua

Penulis: Evelyn Reed

Perempuan memang ditakdirkan berada di bawah laki-laki” begitu kalimat yang seringkali kita dengar untuk memberi penghakiman kepada jenis kelamin perempuan. Dikisahkan pula bahwa dengan kodrat untuk hamil dan melahirkan anak, maka perempuan memiliki cacat bawaan, sehingga takdir mereka adalah di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Buku yang ditulis Evelyn Reed ini, membantah klaim-klaim di atas dengan basis data ilmiah. Reed melakukan penelusuran historis untuk melacak posisi perempuan sejak zaman primitif dan juga membandingkannya dengan hubungan antara pejantan dan betina dalam dunia binatang. Kesimpulan dalam buku ini menunjukan hal yang sangat penting, bahwa perempuan tidak ditakdirkan sebagai manusia kelas dua, posisi perempuan setara dengan laki-laki. Takdir bahwa perempuan di bawah laki-laki bagi Evelyn Reed adalah sesuatu yang palsu dan tidak ilmiah.



Mengapa Perempuan Bercinta Lebih Baik di Bawah Sosialisme

Penulis: Kristen R. Godshee

Buku ini berisi sebuah laporan blak-blakan tentang bagaimana kapitalisme merugikan perempuan—termasuk, ya, dalam kehidupan intim mereka. “Di bawah sistem kapitalis, perempuan menemukan diri mereka sendiri lebih buruk daripada kaum pria,” Bernard Shaw menulis pada tahun 1928, “karena, saat Kapitalisme memperbudak pria, dan kemudian dengan membayar perempuan melaluinya, menjadikan perempuan sebagai budak pria, perempuan menjadi budaknya budak, yang mana hal itu merupakan jenis perbudakan paling buruk.” Pada konteks itu, perempuan akan lebih menikmati bercinta ketika di era sosialisme, bukan kapitalisme. Sebab, sosialisme yang ideal menempatkan perempuan dan laki-laki setara, serta ada perlindungan terhadap kondisi kerja yang lebih baik, sehingga perempuan bisa fokus dalam kegiatan bercinta.



Feminisme untuk 99%: Sebuah Manifesto

Penulis: Cinzia Arruzza, Tithi Bhattacharya, & Nancy Fraser

Perumahan yang tidak terjangkau, upah murah, perawatan kesehatan yang tidak memadai, kebijakan yang berpihak pada modal, perubahan iklim, pekerjaan rumah tangga yang tak dibayar—bukan ini yang biasa kamu dengar dari perbincangan para feminis. Tapi bukankah itu masalah terbesar bagi sebagian besar perempuan di seluruh dunia?

Mengambil inspirasi dari gelombang baru militansi kaum feminis yang telah meluas secara global, manifesto ini menyerukan bahwa feminisme tidak boleh dimulai—atau dihentikan—agar 1 persen perempuan menduduki kursi puncak perusahaan. Oleh karena, keterwakilan itu tidak akan pernah membebaskan perempuan kelas pekerja dari belenggu ketidakadilan, karena dengan pandangan liberalnya, mereka justru menjadi kepanjangan tangan kekuasaan modal. Bertekad untuk memutus aliansi nyaman antara feminisme liberal dan modal keuangan, manifesto ini mengusulkan bentuk feminisme yang lain, yaitu Feminisme untuk 99 persen. Feminisme yang melakukan operasi penyelamatan dan pengoreksian arah perjuangan feminis untuk menjadi feminisme yang anti-kapitalis, anti-rasis, internasionalis, dan ekososialis demi mencapai dunia yang adil.

Related posts

Leave a Comment